Toraja dan Setumpuk Rindu Abadi

Toraja dan Setumpuk Rindu | Ada banyak bait yang ingin aku tulis tentang kota ini. Kota yang dijuluki sebagai Tana Para Raja. Kota dengan balutan alam dan eksotisme adatnya yang seakan tak lekang oleh semua perkembangan zaman.

Toraja dan Setumpuk Rindu Abadi

Ada sebuah kekhawatiran dalam benakku. Bagaimana jika kelak aku tak bisa kembali ke kota ini lagi? Bagaimana jika kelak kota ini hanya menjadi bagian dari kenangan?

Rasanya aku tak rela jika aku tak bisa kembali ke kota ini. Sejujurnya aku pun sudah berusaha untuk melepas semua hal tentang kota ini. Aku juga sudah berusaha untuk tak lagi memikirkan kota ini.

Namu rasanya semua sia-sia. Karena kota ini sudah mempunyai tempat tersendiri di hatiku. Jika kelak aku tak kembali, biar semua cerita tentang kota ini tetap abadi adalam bait-bait tulisan. Biar Toraja dan setumpuk rindunya abadi dalam tulisan yang aku rangkai.

September 2017

“Hai”

Sapamu kala perjalan Toraja-Makassar. Dalam perjalanan 12 jam di Toraja, aku tak pernah bermimpi untuk singgah dalam hati seseorang atau pun berangan jatuh cinta pada seseorang di sana. Jauhnya jarak dan drama bus antar kota cukup menyurutkan minatku untuk menumbuhkan perasaan di sana.

Tapi apa boleh buat jika Tuhan yang berkehendak lain.

Aku yang saat itu sedang tergila-gila dengan kopi dan kamu yang saat itu sedang tertarik dengan perbincanganku tentang kopi. Kita yang tak saling kenal, menjadi saling sapa karena kopi.

Dalam cahaya remang bis malam, aku melihat sosokmu dengan jelas. Rahang yang tegas, mata tajam, dan suara yang lembut. Aku tak ingat apa saja yang kita bicarakan malam itu. Karena sejujurnya, aku tak ingin mengingatmu. Aku ingin menganggap perkenalan kita adalah bagian dari basa-basi.

Maret 2018

“Ini Putri siapa ya?”

Aku tak menyangka setelah pertemuan kita 6 bulan lalu, tiba-tiba kamu mengirim pesan. Nahasnya, aku dan kamu yang saat itu tak saling memperkenalkan diri. Jadi ketika pesan pertama dari kamu masuk, aku sempat mengira kalau kamu cuma cowok iseng.

Ternyata birbincang denganmu lewat dunia maya cukup menyenangkan. Hingga akhirnya aku memutuskan kembali ke Toraja Utara. Menyaksikan eksotisme adat Ma’nene. Ritual mayat berjalan Toraja.

Agustus 2018

Pergi ke Toraja sendiri dan menyaksikan mayat ritual mayat berjalan, sungguh tak pernah ada dalam agenda hidupku. Terlebih aku ditemani oleh orang ‘asing’. Walaupun tak sepenuhnya asing, tapi tetap saja. Kamu orang tak benar-benar aku kenal.

Tiga hari bersama. Sejak matahari terbit sampai ia kembali tenggelam. Ternyata berhasil menumbuhkan apa yang sejak awal aku cegah.

Pilihannya saat itu ada dua : jalani atau pura-pura mati rasa. Diantara keduanya, hasilnya akan sama. Semua akan berpisah pada waktunya. Semua akan berakhir kalau Tuhan tak ingin kita bersama.

Dengan sadar, saat semua orang ramai menyaksiakan pembukaan makam, aku duduk dibelakang sebuah patane (kuburan modern). Menulis sebuah catatan di note handphone:

Bagaimana jika setelah ini kita tak saling bertukar kabar lagi? Bagaimana jika setelah ini tak ada lagi chat basa basi. Atau bagaimana jika ini adalah pertemuan terakhir kita?

Sejenak kita yang awalnya sama-sama asing, malah memutuskan untuk saling menautkan rasa. Sayangnya tak semua rasa harus berakhir bahagia.

Karena perpisahan adalah hal yang pasti.

Perpisahan yang sebenarnya terjadi saat kita kehilangan kata ‘halo’. Saat kita sudah tak lagi bertukar kabar.

Tinggalkan komentar